Minggu, 10 Januari 2016



IMPLIKATUR DALAM TUTURAN
Sri Winarsih
 F2A013004
S1 Sastra Inggris
Universitas Muhammadiyah Semarang

1.      Pendahuluan
1.1.Latar Belakang
Pragmatik merupakan salah satu cabang ilmu yang dipelajari dalam bidang kebahasaan. Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca). Yule (1996:3) menyebutkan empat definisi pragmatik yaitu (1)bidamg yang mengkaji makna pembicaraan, (2)bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya, (3)bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan/terkomunikasikan untuk pembicara, dan (4)bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.

Aspek yang dikaji dalam pragmatik salah satunya yaitu implikatur. Implikatur adalah ujaran yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapkan. Konsep implikatur  kali pertama dikenalkan oleh H.P. Grice (1975) untuk memcahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Menurut H.P. Grice implikatur merupakan sebuah proposisi yang diimplikasikan melalui ujaran dari sebuah kalimat dalam suatu konteks.

Dalam makalah ini penulis membahas mengenai implikatur dalam tuturan. Penulis menganalisis tuturan dalam suatu ceramah dalam perkuliahan yang disampaikan oleh Bapak Budi Santosa. Penulis ingin mengetahui penggunaan implikatur dalam tuturan dari Pak Budi Santosa.

1.2.Rumusan Masalah
Apakah penutur menggunakan implikatur dalam tuturan dan apa maksud yang ingin penutur sampaikan dalam implikatur tersebut?.
1.3.Metode Pengambilan Data
Penelitian ini penulis menggunakan metode merekam dan mencatat data yang akan digunakan untuk bahan penelitian.
1.4.Teori
Penulis menggunakan teori dari H.P. Grice (1975) yang mendefinisikan implikatur sebagai sebuah proposisi yang diimplikasikan melalui ujaran dari sebuah kalimat dalam suatu konteks. Implikatur pertama kali dikenalkan oleh H.P. Grice (1975) dengan tujuan untuk memecahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa.
Dalam teorinya, Grice (1975:45) membedakan dua macam implikatur, yaitu conventional implicature (implikatur konvensional) dan conversational implicature (implikatur non konvensional atau implikatur percakapan). Implikatur konvensional adalah implikatur yang diperoleh dari makna kata, bukan dari pelanggaran prinsip percakapan. Adapun implikatur nonkonvensional adalah implikatur yang diperoleh dari fungsi pragmatis yang tersirat dalam suatu percakapan.

H.P. Grice menyebutkan lima ciri-ciri implikatur percakapan, yaitu:
a.  Dalam keadaan tertentu, implikatur percakapan dapat dibatalkan baik dengan cara eksplisit ataupun dengan cara kontekstual (cancelled).
b.   Ketidakterpisahan implikatur percakapan dengan cara menyatakan sesuatu. Biasanya tidak ada cara lain yang lebih tepat untuk mengatakan sesuatu itu, sehingga orang memakai tuturan bermuatan implikatur untuk menyampaikannya (nondetachable).
c.     Implikatur percakapan mempersyaratkan makna, konvensional dari kalimat yang dipakai, tetapi isi implikatur tidak masuk dalam makna konvensional kalimat itu (nonconvensional).
d.      Kebenaran isi impikatur tidak tergantung pada apa yang dikatakan dapat diperhitungkan dari bagaimana tindakan mengatakan apa yang dikatakan (calcutable).
e.   Implikatur percakapan tidak dapat diberikan penjelasan spesifik yang pasti sifatnya (indeterminate).

2.      Pembahasan
Dalam penelitian ini penulis mengambil data dari tuturan Bapak Budi Santosa dalam ceramah perkuliahan mahasiswa sastra inggris Unimus pada mata kuliah speaking mengenai tour guide.
2.1. Konteks : ceramah perkuliahan mengenai tour guide bersama mahasiswa. Penutur sedang berbagi pengalaman dengan mahasiswa berkaitan dengan profesi beliau sebagai tour guide.
Penutur : “perlu dicatat digaris bawahi ndak bayar malah dibayar.”
Berdasarkan konteks diatas makna atau maksud dari tuturan yang diujarkan oleh penutur adalah agar mahasiswa memperhatikan dan meningat apa yang diujaran oleh penutur. Penutur tidak menyampaikan maksud tersebut secara langsung melainkan menggunakan kalimat “perlu dicatat digaris bawahi.” Maksud dari penutur bukan untuk meminta mahasiswa agar mencatat dan menggaris bawahi apa yang dikatakan penutur melainkan agar ujaran yang dikatakan penutur bisa dipahami dan dimengerti oleh partisipan.

2.2. Konteks : penutur sedang mengevaluasi semua kegiatan mahasiswa dalam praktek tour guide di tempat wisata.
Penutur : “semalam itu kalian ngapain aja kok sampai nggak tahu materi? Kalau saya jadi dosennya tadi saya bakalan marah.
Erdasarkan konteks diatas sebenarnya penutur tidak benar-benar ingin bertanya kepada partisipan mengenai apa saja yang dilakukan partisipan tadi malam. Maksud dari pertanyaan penutur tersebut adalah sebagai sebuah sindiran bagi partisipan karena pada saat prektek menjadi tour guide partisipan tidak menguasai materi sehingga apa yang disampaikan tidak jelas. Penutur menggunakan implikatur untuk menyindir partisipan secara tidak langsung agar tidak terkesan menyindir.


  
3.      Penutup
3.1.Kesimpulan
Berdasarkan teori H.P. Grice (1975) penulis menemukan implikatur pada data yang diambil dalam tuturan Bapak Budi Santosa dengan cara merekam dan mencatat. Implikatur merupakan makna tersirat dalam sebuah tuturan. Dalam tuturan yang disampaikan oleh Bapak Budi Santosa terdapat beberapa implikatur.implikatur yang digunakan oleh penutur dalam data diatas bertujuan untuk memerintah dan meyindir partisipan. Data implikatur tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh H.P. Grice.

3.2.Biblografi




Tidak ada komentar:

Posting Komentar